Soft Selling Pada Personal Brand

Soft Selling Pada Personal BrandBila anda sering menemukan sebuah minisite, billboard, iklan televisi, brosur dan lain-lain maka itu merupakan teknik penjualan dengan hard selling. Menjual secara langsung dan menawarkannya pada konsumen.

Berbeda dengan soft selling, kita menjual secara diam-diam. Soft selling adalah berarti cara promosi yang dilakukan secara halus atau tidak menyampaikan promosi secara langsung. Soft selling lebih menekankan tumbuhnya kepercayaan dan terjalinnya hubungan yang nyaman dengan konsumen. Syukur-syukur jika kemudian bisa dialirkan menjadi sebuah penjualan.

Pengertian lebih lanjut mengenai soft sellingbisa dibaca melalui artikel berjudul: Soft Selling Adalah?

Nah, apa kaitannya dengan personal brand? Tentu saja ada, sebab konten atau isi dari brand merupakan barang yang akan kita jual. Sebagai contoh, ada beberapa teman saya yang menampilkan sebuah file presentasi tentang personal brand mereka. Ada yang langsung memberikan penawaran bahwa ia memiliki personal brand tertentu, tetapi ada pula yang memberikan beberapa tips mengenai konten brand mereka. Disinilah kita melihat mana presentasi yang melakukan hard selling dan soft selling dari dirinya sendiri.

Manakah yang lebih bagus antara hard selling dan soft selling pada personal brand? Kita kembali pada pemahaman kita mengenai personal brand. Personal brand adalah “bersifat alami” dan “tidak memaksa”. Kedua kata tersebut adalah sangat penting, karena hard selling justru lebih cenderung memaksa, sehingga brand itu tidak tumbuh secara alami.

Bagaimana dengan soft selling? Jika kita menawarkan sebuah konten, tips, bahasan tertentu yang berkaitan dengan brand kita dan itu kita sajikan untuk konsumen, maka itu adalah soft selling. Menjual brand diri kita secara tidak langsung pada mereka, sehingga akan terjadi sebuah kepercayaan dan sebuah hubungan yang nyaman. Ingat brand itu tumbuh secara alami dan tidak memaksa.

Konsekuensi dari hard selling adalah efeknya lebih bersifat cepat atau secara vulgar, istilahnya “take it or leave it!” Sedangkan soft selling biasanya berlangsung lebih lama dan harus dijalankan secara terus menerus. Begitu konsumen memiliki hubungan erat dengan anda, maka dia akan menjadi konsumen potensial anda.

Kemudian, bagaimana dengan personal brand anda dan apa yang anda lakukan untuk mempromosikan brand anda? Apakah hard selling atau soft selling?


Suka dengan tulisan saya? Saya akan memberitahu anda jika ada update selanjutnya. Silahkan berlangganan artikel dengan mengisi kolom dibawah ini dan kemudian cek email untuk verifikasi berlangganan, Gratis!!

Enter your email address:


3 Komentar

Saya sedang memperdalam ilmu saya tentang soft selling ini dan mau mencoba menerapkannya pada produk UKM.

Terima kasih artikelnya

[Reply]

Ketimbang melakukan hard selling, memamng lebih baik menggunakan soft selling. Tapi selain soft selling, ada strategi yang bagus juga untuk melakukan penjualan secara tidak langsung, yaitu BRANDING.
Branding dalam kontek bahasan ini merupakan hasil gabungan dari Marketing, Public Relation, dan Advertising. Branding dikatakan berhasil apabila identitas brand atau perception value yang dikomunikasikan oleh pemilik brand melalui 3 cara diatas dapat diterima dan diyakini oleh target market dan sesuai dengan yang diinginkan oleh pemilik brand. Branding merupakan persepsi balik dari target market terhadap identitas sebuah brand.
Demikian menurut pendapat saya, semoga berkenan.
Terima kasih sudah mengijinkan untuk berkomentar di blog ini, semoga sukses dan teruslah berkarya.

[Reply]

Saya ingin belajar lebih dalam about soft selling dan personal branding, karna menurut saya ini adalah kunci sukses saya dalam berbisnis.. Terima kasih artikelnya, sangat membantu

[Reply]

Tinggalkan Komentar

(required)

(required)