Perusahaan Keberatan Membayar Pesangon

Perusahaan Keberatan Membayar Pesangon
Pesangon memang menjadi hak karyawan jika PHK dilakukan oleh perusahaan. Masalahnya, tidak semua perusahaan mau membayar pesangon pada karyawan mereka. Terutama untuk karyawan yang sering melakukan pelanggaran/kesalahan dan tidak ada inisiatif untuk berubah. Jika status karyawan tsb tetap/permanent, perusahaan akan berpikir dua kali untuk melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). Perusahaan merasa keberatan memberikan pesangon.

Berbeda kasus jika karyawan tersebut melakukan kesalahan atau pelanggaran berat sesuai pasal 158, UU no. 13 tahun 2003, maka karyawan tersebut tidak mendapatkan pesangon, karyawan hanya mendapatkan uang penggantian hak.

Jika ada kasus karyawan yang melanggar dan sudah mendapatkan Surat Peringatan 1 (SP1), SP2 sampai SP3, perusahaan sebenarnya berhak untuk melakukan PHK sesuai pasal 161 ayat 1 dan secara hukum, karyawan berhak pesangon 1x, penggantian masa kerja 1x, dan penggantian hak, sesuai Pasal 161 ayat 3.

Tapi bagaimana jika perusahaan keberatan untuk memberikan pesangon? Sebenarnya hal ini bisa dikondisikan jika perusahaan keberatan membayar pesangon.

1. Ketika karyawan tersebut akan menandatangani Surat Peringatan 3 (SP3), tambahkan kalimat di surat tersebut “jika melakukan pelanggaran kembali, maka saya bersedia mengundurkan diri”. Jika ada pelanggaran kembali maka statusnya menjadi resign dan tidak berhak atas uang pesangon.

2. Perusahaaan juga dapat mengeluarkan surat referensi kerja dengan menuliskan kalimat bahwa ybs berhenti dari perusahaan sesuai putusan PHK dikarenakan ybs melakukan pelanggaran, tidak disiplin, dll.

3. Jika karyawan tersebut memiliki jabatan tinggi, maka bisa dilakukan demosi, atau tidak melibatkan ybs dalam berbagai macam pengambilan keputusan atau project. Intinya membuat situasi ketidaknyamanan di lingkungan kerja sehingga membuat karyawan tidak betah.

Selain itu, silakan berkreasi 😀

Memang seharusnya, status tetap/permanent bukan menjadi tameng bagi karyawan untuk bebas melakukan pelanggaran atau menurunkan produktifitasnya, karena kita dibayar, maka sudah seharusnya memberikan kontribusi maksimal kepada perusahaan.


Suka dengan tulisan saya? Saya akan memberitahu anda jika ada update selanjutnya. Silahkan berlangganan artikel dengan mengisi kolom dibawah ini dan kemudian cek email untuk verifikasi berlangganan, Gratis!!

Enter your email address:

No comments yet.

Tinggalkan Komentar

(required)

(required)